John Wycliffe
John Wycliffe hidup di jaman 200 tahun sebelum reformasi yang dilakukan oleh Martin Luther. Kepercayaan dan pengajaran John Wycliffe mendekati Luther, Calvin dan tokoh reformasi lainnya sehingga sejarawan pun menjuluki dia sebagai MORNING STAR OF REFORMATION (bintang fajar reformasi). Dia lahir pada tahun 1320 di desa kecil bernama Ipreswell (nama sekarng Hipswell), Yorkshire, Inggris.
KONDISI EROPA SEWAKTU JAMAN WYCLIFFE
Wycliffe lahir pada zaman kegelapan (Dark Age) di Eropa. Dark Age adalah sebuah zaman keterpurukan umat Katolik dulu. Dalam Zaman Kegelapan, segala keputusan pemerintah dan hukum negara tidak diambil berdasarkan demokrasi di parlemen seperti ketika zaman kekaisaran Roma. tetapi. oleh majelis dewan Gereja. Tidak setiap individu berhak berpendapat, karena yang berhak mengeluarkan pendapat-keputusan adalah para ahli agama. Dan waktu itu kepausan dipimpin oleh Paus Yohanes ke-22 (Pope John XXII: 1316–1334) yang terletak di Avignon Perancis (bukan di Roma) karena pada bulan Maret 1309 seluruh anggota tahta kepausan pindah dari Poitiers (di mana mereka berada selama empat tahun terakhir) ke Avignon, yang saat itu bukan bagian wilayah Perancis tapi merupakan sebuah perkebunan kerajaan milik Raja Sisilia. Perpindahan tahta kepausan ke Avignon dibenarkan oleh para teolog Perancis pendukung Sri Paus atas dasar keamanan karena Roma sedang dalam kondisi tidak stabil dan berbahaya (pertikaian antar-bangsawan Romawi dan tentara mereka telah sampai pada situasi yang sangat parah, dan Basilika San Giovanni di Laterano telah hancur terbakar).
Selama berada di Avignon, tahta kepausan mengadopsi banyak gaya resmi kerajaan : gaya hidup para kardinalnya yang lebih mirip dengan gaya hidup para pangeran daripada gaya hidup para rohaniwan; semakin hari semakin banyak kardinal orang Perancis (kerap kali adalah sanak keluarga dari Sri Paus yang sedang berkuasa) yang mengambil jabatan-jabatan penting; dan kedekatan mereka dengan para prajurit Perancis. Pada akhir Abad Pertengahan tahta kepausan memainkan sebuah peran lain yang besar selain peranannya di bidang rohani yaitu dalam perkara-perkara sekular. Kesuksesan Perang-perang Salib awal menambahkan kewibawaan Sri Paus sebagai pemimpin sekular Dunia Kristen, dengan monarki-monarki seperti Raja Inggris, Perancis dan bahkan Kaisar sekalipun hanya bertindak sebagai panglima Sri Paus, dan memimpin tentara-tentara "mereka". Perkembangan Gereja tumbuh langsung dari reorganisasi dan sentralisasi yang berhasil dari administrasi Paus Klemens V (Paus sebelum Paus Yohanes ke-22) dan Paus Yohanes XXII. Tahta kepausan saat itu secara langsung mengendalikan pemberian tanah untuk seumur hidup (benefice), mencampakkan tradisi proses-proses pemilihan yang ada, untuk mendapatkan pemasukan uang yang sangat besar daripadanya. Banyak bentuk-bentuk pemasukan uang lainnya memberikan kekayaan kepada Tahta Suci dan para kardinalnya, diantaranya: donasi persepuluhan untuk Gereja, pajak sepuluh persen untuk harta milik Gereja, pemberian seluruh keuntungan tahun pertama dari benefice (annatae), pendapatan tahun pertama setelah menduduki jabatan tertentu seperti uskup, pajak-pajak khusus bagi misi-misi perang atas nama Gereja yang batal terjadi.
Para paus seperti Paus Yohanes XXII, Paus Benediktus XII dan Paus Klemens VI diceritakan menggunakan kekayaan ini untuk membeli pakaian-pakaian mahal dan mengadakan pesta-pesta makan bersama dengan menggunakan piring perak dan emas. Secara umum kehidupan mereka yang seharusnya memimpin para umat Gereja tampak lebih seperti kehidupan para pangeran daripada seperti kehidupan para rohaniwan. Gaya hidup yang penuh kemewahan dan korupsi dari pemimpin Gereja ini menular ke para bawahannya: ketika seorang uskup harus membayarkan pendapatannya selama satu tahun untuk memperoleh benefice, ia mencari jalan yang mirip untuk memperoleh uang dari jabatannya. Usaha ini sampai-sampai berujung pada penjualan absolusi, atau pengampunan dosa dalam Sakramen Tobat.
Para pemberi Sakramen Tobat ini akhirnya dibenci namun tetap dibutuhkan untuk menebus jiwa seseorang. Para biarawan yang gagal untuk mentaati jalan Kristus, yaitu gagal untuk hidup sesuai dengan kaul kesucian dan kemiskinannya, dipandang rendah oleh masyarakat. Sentimen masyarakat ini memperkuat gerakan untuk menegakkan kembali kewajiban menjadi miskin total, pelepasan kepemilikan terhadap semua barang pribadi maupun barang gereja, dan penyebaran Injil seperti yang dilakukan oleh Yesus dan para rasul-Nya. Bagi gereja, sebuah institusi yang telah terikat dengan struktur sekuler waktu itu dan memiliki perhatian besar pada harta kekayaan, hal ini merupakan suatu perkembangan yang berbahaya, sehingga di awal abad ke-14 semua gerakan ini dinyatakan sesat. Gerakan-gerakan yang dimaksud antara lain gerakan Fraticelli di Italia, gerakan Waldensia di Jerman dan gerakan Hussite di Bohemia (yang terinspirasi oleh gerakan Wycliffe di Inggris). Begitulah kondisi Eropa pada jaman John Wycllife.
PERJUANGAN WYCLIFFE
John Wycliffe (pertengahan 1320-an – 31 Desember 1384) yang adalah seorang pengajar di Universitas Oxford, Inggris, dikenal sebagai tokoh yang memulai reformasi Kristen di Inggris. John dengan berani mengkritik ajaran-ajaran yang salah di Gereja Katolik yaitu:
1. Ia mempertanyakan hak gereja atas kuasa duniawi dan kekayaannya. Ketika itu Paus menuntut hak milik gereja di Inggris sebagai milik Paus; Wycliffe berpendapat harta milik gereja di Inggris adalah milik negara. Menurut Wycliffe, seharusnya gereja jangan memiliki harta milik duniawi, gereja harus menjadi miskin dan sederhana, seperti gereja pada masa Perjanjian Baru.
2. Ia mempertanyakan penjualan surat-surat pengampunan dan jabatan-jabatan gerejawi.
3. Ia mempertanyakan penyembahan para santo dan relik yang berbau takhayul, serta kuasa Paus.
4. Ia mempertanyakan pandangan resmi tentang Ekaristi (doktrin trans-substansiasi) yang dikeluarkan oleh Konsili Lateran Keempat (karena tidak terdapat di Alkitab).
John Wycliffe mempertanyakan tentang hak Gereja atas kuasa duniawi dan kekayaan gereja. Paus telah menuntut bahwa hak milik gereja-gereja di Inggris adalah milik Paus. Wycliffe sangat tidak menyetujui tuntutan seperti itu. Menurutnya harta milik gereja adalah milik negara. Persoalan inilah yang mendorong Wycliffe mulai menyelidiki prinsip dasar kepemilikan dalam Alkitab. Ia menarik kesimpulan bahwa gereja seharusnya tidak memiliki harta duniawi. Gereja harus menjadi miskin dan sederhana seperti gereja pada masa Perjanjian Baru. Dalam hal ini Paus dikritik secara tajam oleh Wycliffe. Menurutnya Paus dan konsili seharusnya berada di bawah hukum Allah, karena Kristuslah Kepala Gereja. Oleh karena Kristus tidak pernah mentahbiskan Paus, maka Paus tidak mempunyai kekuasaan dari Kristus. Bahkan sampai puncaknya Wycliffe menyebut Paus sebagai Si Anti-Kristus.
Selain itu Wycliffe juga mempertanyakan tentang penjualan kartu- kartu pengampunan dosa dan jabatan-jabatan gerejawi, penyembahan kepada para santo dan religi yang berbau takhayul. Untuk pandangan- pandangannya inilah Wycliffe sering harus berhadapan dengan para uskup dan konsili-konsili untuk disidang. Namun, Inggris pada dasarnya penuh sentimen terhadap Gereja Roma, khususnya pada tahun 1300-an. Para pangeran dan pemimpin Iggris menyesalkan cara Gereja merampas kekuasaan dan harta rakyat. Dalam hal inilah Wycliffe mendapat dukungan dari John Gaunt (Pangeran Lancaster). Dengan memanfaatkan kecerdasan Wycliffe, John Gaunt sering memakai ide-ide dan kepopuleran Wycliffe untuk berargumentasi dengan Gereja. Sebagai imbalannya, Pangeran John Gaunt memberi Wycliffe semacam perlindungan.
Pada tahun 1377, Wycliffe akhirnya diajukan ke persidangan dan diminta menghadap uskup London untuk mempertanggungjawabkan pandangan dan ajaran-ajaran sesat yang dituduhkan kepadanya. Namun persidangan terpaksa dihentikan, sebelum Wycliffe sempat mengeluarkan sepatah kata pun, karena ternyata John Gaunt dan pemimpin persidangan beradu pendapat tentang bagaimana persidangan dijalankan, tentang apakah Wycliffe harus duduk atau berdiri. Namun sejak itu Paus mengutuk pandangan dan ajaran Wycliffe. Tulisan- tulisan Wycliffe mulai dilarang beredar.
Selama kritik Wycliffe adalah seputar kebusukan-kebusukan Paus dan tentang penyelewengan terhadap pengambilalihan hak milik gereja, maka Wycliffe merupakan pahlawan yang populer. Paus sangat geram terhadap Wycliffe dan memerintahkannya untuk berhenti berkotbah, bahkan meminta universitas Oxford untuk memecatnya, namun tidak berhasil karena Wycliffe mendapat perlindungan dari John Gaunt. Oxford justru mendukung Wycliffe. Dewan doktor di Oxford menyatakan bahwa tidak satupun tuduhan itu dapat membuktikan bahwa ajaran Wycliffe salah. Buku yang berjudul "Protes" akhirnya ditulis Wycliffe, sebagai pembelaan terhadap ajaran-ajarannya.
Namun, ketika Wycliffe mulai menyerang gereja dalam hal doktrin transubstansiasi (Teologi Roma Katolik bahwa Roti dan anggur dalam perjamuan suci benar-benar berubah menjadi tubuh dan darah Kristus), ia mulai kehilangan banyak pendukung. Hal lain yang terjadi yang akhirnya menyakitkan Wycliffe adalah Skisma Besar yang menyebabkan Inggris menjalin persekutuan dengan Roma dan Pemberontakan Petani (1381) yang dianggap merupakan hasil dari pengajarannya yang sesat. Akibatnya, tulisan-tulisannya dilarang, bahkan diperintahkan untuk dibakar. Wycliffe sendiri akhirnya kehilangan kedudukannya di Oxford dan dilarang berkotbah. Para pengikutnya juga diusir dari Oxford.
PENERJEMAHAN ALKITAB
Akibat pengusirannya ini, Wycliffe justru memanfaatkan waktunya untuk menerjemahkan Alkitab. Menurut Wycliffe, setiap orang harus diberi keleluasaan membaca Kitab Suci dalam bahasanya sendiri. "Oleh karena Alkitab berisikan Kristus, yang diperlukan untuk mendapatkan keselamatan. maka Alkitab sangat diperlukan bagi semua orang, bukan hanya bagi para imam saja," tulisnya. Maka meskipun Gereja tidak setuju, ia bekerjasama dengan sarjana lain untuk menterjemahkan Alkitab bahasa Inggris pertama yang lengkap. Menggunakan salinan tulisan tangan Vulgata (Alkitab terjemahan bahasa Latin) Wycliffe berusaha keras membuat Kitab Suci agar dapat dimengerti oleh orang- orang sebangsanya. Edisi pertama diterbitkan. Penerbitan kedua mengalami perbaikan tetapi baru selesai dikerjakan setelah Wycliffe meninggal. Edisi itu dikenal sebagai "Alkitab Wycliffe", dan dibagi- bagikan secara ilegal oleh para Lollard (sarjana dari Oxford yang merupakan pengikut Wycliffe) yang menyebarkan Injil kepada masyarakat Inggris dalam bahasa setempat. Tapi gerakan Lollard ini tidak bertahan lama karena adanya tekanan yang hebat dari gereja katolik.
Pada tanggal 31 Desember 1384 Wycliffe meninggal karena serangan stroke. Tiga puluh satu tahun setelah Wycliffe dikuburkan, Konsili Konstanz mengucilkan dan menghukum dia. Pada tahun 1428 kuburannya digali dan tulang-tulangnya dibakar, abunya disebarkan di sungai Swift dengan tujuan menghilangkan dia dari sejarah dunia tetapi tidak berhasil. Pengaruh ajaran Wycliffe sangat kuat, khususnya keyakinannya yang sangat dalam terhadap otoritas Alkitab sehingga memberi inspirasi yang luar biasa bagi munculnya gerakan Reformasi di kemudian hari. Itu sebabnya sangat pantas jika John Wycliffe mendapat julukan "Si Bintang Fajar Reformasi", karena melalui semangatnya Reformasi mulai muncul seperti munculnya fajar di pagi hari. Dan diantara para pengikut Wycliffe muncul seorang murid Kristus yang setia dan mengikuti jejaknya, yaitu John Hus.(Rbt)
Sumber:
http://en.wikipedia.org/wiki/John_Wycliffe
http://www.greatsite.com/timeline-english-bible-history/john-wycliffe.html
http://www.wycliffe.org/Explore/WhoWeAre/History/JohnWycliffe.aspx
http://reformed.sabda.org/john_wycliffe_dan_john_hus

Wycliffe mengutus para Lollards pergi memberitakan injil

Burning Wycliffe's bones, from John Foxe's Book of Martyrs (1563)

Wycliffe menerjemahkan Alkitab
